SEJARAH KEHIDUPAN GEREJA KRISTEN JAWA MERGANGSAN YOGYAKARTA
Kira-kira pada tahun 1895 di Kampung Tungkak. Letaknya + 250 m dari Gkj Mergangsan Pasamuwan Tungkak sekarang terdapat tempat bekas Rumah Miskin yang didirikan oleh Pemerintah Kasultanan Yogyakarta dan diurus oleh Tn. Pieters. ( Tempat itu sekarang digunakan untuk Panti Asuhan Yatim PKO) Perawatannya diserahkan kepada Yayasan Rumah Sakit Peronella. Sri Sultan Hamengkoeboewono sangat tertarik akan perawatan yang dilakukan oleh Rumah Sakit Petronella dibawah pimpinan DR. Scheurer beserta para pembantunya yang dengan sekuat tenaga dan penuh kasih menolong penghuni Rumah Miskin yang menderita sakit. Maka pada tahun 1901 Sri Sultan Hamengkoeboewono berkenan menyerahkan sebidang tanah untuk orang sakit sarat milik Kesultanan yang terletak di Kampung Tungkak kepada Zending. DR. Scheurer dan DS. Zwan atas nama Zending menerima pemberian Sultan Yogyakarta dengan senang hati. Verpleger Sambija ditempatkan di Rumah Sakit Tungkak.
Tahun 1902 di Tungkak juga didirikan sekolah Zending, sebagai tempat pendidikan dan Pekabaran Injil. Guru yang pertama bernama M. Kalam sebagai Guru Sekolah dan Guru Injil di sekolah itu.
Adapun selanjutnya ada pegawai Rumah Miskin yang memulai belajar agama Kristen yaitu:
- Patraredja ayah almarhum Bp. Pdt. Ponidi Sopater
- Sastradimedja mertua Pak Kromokariyo. Dari dua orang itu pada awalnya bersedia untuk masuk menjadi orang Kristen di wilayah itu. Diceritakan selanjutnya setelah bertahun-tahun, makin berkembang Pekabaran Injil di wilayah itu. Di rumah perawatan orang miskin tadi juga ikut maju terbukti adanya Cabang Rumah Sakit Petronella. Bersamaan dengan itu maka bersama-sama dengan sekolah Zending memberitakan Berita Injil.Selanjutnya pada waktu itu ada salah satu Saudara yang juga ikut belajar dan masuk menjadi orang Kristen yang asalnya dari sekte kerasulan, yaitu keluarga Bapak Sukawidjaja, yang bertempat tinggal di Nitikan. Yang selanjutnya dengan berjalannya waktu tahun berganti tahun orang yang masuk agama Kristen makin bertambah sampaitahun 1911 tempat rumah miskin dan Rumah Sakit diperlukan / diminta oleh pemerintah, karena akan digunakan untuk tangsi Polisi Dinar ( Polisi militer ).Maka Rumah Perawatan dan Rumah miskin tadi lalu dipindah. Dan ditukar tempat di sebelah Barat Sungai Code ( Kompleks Puskesmas Trisnowati – sekarang Puskesmas Mergangsan ).Selanjutnya yang mengurusi perawatan orang-orang sakit adalah Bapak Sambija. Begitu selanjutnya Berkat Tuhan Pekabaran Injil berkembang di wilayah Tungkak melalui Rumah Sakit dan Sekolahan Pada tanggal 1 Januari 1913 jumlah orang Kristen di Pasamuwan Tungkak ada 47 orang. Adapun buah Pekabaran Injil Yesus Kristus yang nampak ialah Bpk. Sopater yang menamatkan sekolahnya Guru Sekolah yang selanjutnya diperbantukan ikut mengajar di sekolah yang terletak di sebelah utara bekas rumah perawatan orang miskin dan orang sakit. Makin lama berkat Tuhan makin nampak, sehingga Bpk. Ponidi Sopater menjadi Guru Ijil yang ditempatkan di Gereja Gondokusuman, maka yang menjadi guru di sini ialah Bpk. Iskak Surosentono.Pada tanggal 23 November 1913 jemaat Gondokusuman didewasakan Bpk. P. Sopater menjadi Pendeta Gondokusuman dan lepas dari Zending. Karena Tungkak jauh dari Gondokusuman maka Pasamuwan Tungkak berdiri sendiri pada waktu itu anggota Pasamuwan Tungkak ada 50 orang.Ketika pada tahun 1922 Ds. A Pos berusaha untuk mendewasakan Pasamuwan Tungkak, tetapi tidak bisa. Dari penilaian para pendeta yang meneliti keadaan jemaat pada waktu itu tidak setuju apabila Pasamuwan Tungkak didewasakan. Dengan alasan belum mempunyai Guru Injil.Setelah Gereja Gondokusuman lepas dari Zending maka Pasamuwan Tungkak pun mengalami perubahan yaitu Guru Injil yang pada waktu itu dipegang oleh Bpk. Kalam di ganti oleh Bpk. Setodihardjo karena Bpk. Kalam dipindah ke Gereja Wates Kulon Progo. Perlu diketahu bahwa jalannya perkembangan jemaat Tuhan disini makin lama makinbertambah kemajuannya hingga pada awal tahun 1925 jumlah anggota jemaat mencapai 50 orang terdiri dari 12 keluarga. Sejak pada waktu jemaat di sini mempunyai majelis gereja tepatnya pada tanggal 15 Maret 1925 yang dipimpin oleh Ds. A.Pos.Adapun Majelis Gereja yang pertama ialah:a. Penatua :
- Mangoensoekarto
- Mangoensoewita
- Atmasoedarma
b. Diaken :
1. Bpk. Martodihardjo
2. Bpk. Atmadikaryo
Yang selanjutnya kebaktian ditetapkan bertempat di Poliklinik Rumah Sakit karena belum mempunyai tempat lain ( sekolahan sudah rusak ).
Selanjutnya mulai pada waktu itu ketika majelis yaitu Sdr. Pendeta menyarankan agar pasamuwan mau membangun gedung gereja. Serta diusulkan agar gedung gereja dibangun di Pojok Beteng Wetan, karena pada waktu itu saudara-saudara yang belajar agama Kristen banyak yang belajar agama ke Gereja Gondokusuman. Tetapi ada usulan dari Majelis Gereja agar gedung Gereja didirikan di Tungkak bertempat disebelah Barat Rumah Sakit atau di dekat rumah perawatan orang miskin tetapi rencana itu gagal karena tempat yang disebut diatas akan digunakan oleh pemerintah. Setelah beberapa waktu kemudian beberapa tahun kemudian Sdr. Setodihardjo dipindah ke Gondokusuman di ganti oleh Sdr. Darmowongso, tetapi tidak berapa lama Sdr. Darmowongso meninggal lalu diganti oleh Sdr. Trisnosoemarto.
Setelah Tahun 1929 jemat baru mulai memperhatikan tempat kebaktian dan merencanakan berdirinya gedung gereja lagi. Yang akhirnya karena berkat Tuhan yang diberikan kepada jemaat Tungkak di dalam tahun yang berjalan itu jemaat Tungkak dapat mendirikan gedung gereja di wilayah Mergangsan yang dibuka pada tanggal 16 juli 1930. Di atas mimbar bertuliskan ayat Kitab Suci ditulis dengan huruf Jawa yang diambil dari Injil Yokhanan 14 : 6 : “ Akulah jalan dan kebenaran dan hidup, tidak ada seorangpun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku “.
Dalam Bahasa Jawa ; “ Aku iki dalane sarta jatine kayekten lan kauripan, ora ana wong siji-sijia kang bisa sowan marang Sang Rama menawa ora metu ing Aku “.
Gedung Poliklinik tersebut disediakan oleh Pemerintah Yogyakarta, sedang pelaksanaan oleh Petronela Hospital (sekarang RS Bethesda). Kelompok orang-orang Kristen tersebut di bawah asuhan GKJ Gondokusuman, sedang Bp. M. Kalam Efrayim Guru Sekolah Rakyat Zending di Lowano (tahun 1902) ditugaskan untuk berkhotbah setiap mereka berjemaat pada setiap hari Minggu di ruang Poliklinik.
Jalannya perkembangan jemaat Tuhan disini makin lama makin bertambah kemajuannya hingga pada awal tahun 1925 jumlah anggota pasamuwan mencapai 50 orang terdiri dari 12 keluarga.
Sejak pada waktu pasamuwan di sini mempunyai majelis gereja tepatnya pada tanggal 15 Maret 1925 yang dipimpin oleh DS. A. Pos.
Bp. M. Kalam Efrayim pindah ke Pasamuwan Wates, Kulonprogo digantikan oleh Bp. Setodihardjo yang Guru Sekolah Zending pula, kemudian digantikan oleh seorang Guru Injil yaitu Bp. Darmomartana pada tahun 1930. Pada waktu itu orang- orang Kristen sudah begitu banyak, dan atas bantuan sana-sini dapat memiliki gedung Gereja beserta tanahnya terletak di kampung Mergangsan Kidul. Pasamuwan Tungkak digantikan dengan nama Gereja Kristen Jawa Mergangsan pada 28 Juli 1952, disesuaikan dengan letak Gedung Gereja yang di wilayah Kemantren (Kecamatan) Mergangsan.
Setelah Bapak Guru Injil wafat, maka tidak lama kemudian memanggil Pendeta pertama, yaitu Bp. Sangidja Dwidjaasmara. Setelah Bp. Pdt. Sangidja Dwidjaasmara pindah ke Purwokerto, lebih kurang empat tahun kemudian memanggil Bp. M. Prawirohatmodjo menjadi Pendeta yang kedua.
Sedang setelah Pendeta M. Prawirohatmodjo emiritus tahun 1980, dipanggillah Bp. Bambang Sumbodo, Sth menjadi Pendeta yang ketiga sampai sekarang. Dalam kurun waktu + 82 tahun (1925 – 2007) anggota GKJ Mergangsan semula 50 orang, sekarang (akhir tahun 2006) menjadi 2.273 orang. Hingga tiap tahun pukul ratanya 2.273 : 82 = 27 orang. Belum termasuk Pepanthan Kotagede yang sekarang menjadi GKJ Kotagede.
Pada tahun 2007, GKJ Mergangsan saat ini masih dalam proses Pemanggilan Calon Pendeta yang ke IV. Mohon dukungan doa dari semua warga jemaat, kiranya dapat berjalan dengan lancar. Sampai di usianya yang ke-82 tahun ini (1925 – 2007), masih banyak hal yang perlu kita renungkan, sejauh manakah pelayanan kita untuk kemuliaan Tuhan bagi jemaatnya di GKJ Mergangsan ini. Sudahkah kita berikan yang terbaik kepada Yesus Kristus Tuhan kita?
Demikianlah karya besar Raja Gereja atas diri GKJ Mergangsan yang telah berfirman : ”Memang biji (sesawi) itu paling kecil dari segala jenis benih, tetapi apabila sudah tumbuh, biji sesawi itu lebih besar daripada sayuran yang lain, bahkan menjadi pohon, sehingga burung-burung di udara datang bersarang pada cabangnya.” (Matius 13 : 32).